Shalattidak akan sah kecuali jika memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun dan hal-hal yang wajib ada padanya serta menghindari hal-hal yang akan membatalkannya. Adapun syarat-syaratnya ada sembilan: 1. Islam, 2. Berakal, 3. Tamyiz (dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk), 4. Menghilangkan hadats, 5. Menghilangkan najis, 6. Menutup aurat, 7. Yang termasuk perbuatan bid'ah adalah was-was (selalu ragu) sewaktu berniat sholat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang keras menengadah ke langit (ketika sholat). Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Adapun bagi imam dan orang yang sholat sendiri, maka SungguhKami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. (Al Baqarah:144) Sebelumnya: Pemindahan Kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka'bah. Al-Barra melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu Nabi ๏ทบ menghadapkan wajahnya ke arah kiblat. Sesungguhnyashalat termasuk salah satu rukun Islam yang sangat agung. "Dalam hadits ini terdapat larangan yang kuat dan ancaman yang keras atas perbuatan itu. Dan telah dinukil adanya ijma' (konsensus) atas larangan hal tersebut. 'Para ulama berbeda pendapat dalam kemakruhan menengadah pandangan ke langit ketika berdoa di luar waktu Vay Tiแปn Trแบฃ Gรณp Theo Thรกng Chแป‰ Cแบงn Cmnd. Ini adalah aktifitas yang dibenci jika dilakukan di dalam shalat, walau tidak membatalkannya, tetapi hendaknya ditinggalkan demi kesempurnaan shalat kita. Mempermainkan Baju Atau Anggota Badan Kecuali Jika Ada Keperluan ุนู† ู…ุนูŠู‚ุจ ู‚ุงู„ ุณุฃู„ุช ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุนู† ู…ุณุญ ุงู„ุญุตู‰ ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูู‚ุงู„ ู„ุง ุชู…ุณุญ ุงู„ุญุตู‰ ูˆุฃู†ุช ุชุตู„ูŠ ูุฅู† ูƒู†ุช ู„ุงุจุฏ ูุงุนู„ุง ููˆุงุญุฏุฉ ุชุณูˆูŠุฉ ุงู„ุญุตู‰ ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ. Dari Muโ€™aiqib, dia berkata Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang meratakan kerikil ketika shalat. Maka Beliau menjawab โ€œJanganlah meratakan kerikil ketika shalat, tapi jika terpaksa meratakannya, cukuplah dengan meratakannya sekali hapus saja.โ€ HR. Muslim No. 546, dan lainnya Imam Muslim memasukkan hadits ini dalam kitab Shahihnya, dengan judul Karahah Masaha Al Hasha wa Taswiyah At Turab fi Ash Shalah Makruhnya Mengusap Kerikil dan Meratakan Tanah ketika Shalat. Riwayat lain ูˆุนู† ุฃุจูŠ ุฐุฑ ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุงู„ ุฅุฐุง ู‚ุงู… ุฃุญุฏูƒู… ุฅู„ู‰ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูุฅู† ุงู„ุฑุญู…ุฉ ุชูˆุงุฌู‡ู‡ ูู„ุง ูŠู…ุณุญ ุงู„ุญุตู‰ ุฃุฎุฑุฌู‡ ุฃุญู…ุฏ ูˆุฃุตุญุงุจ ุงู„ุณู†ู†. Dari Abu Dzar, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda โ€œJika salah seorang kalian mendirikan shalat, maka saat itu dia sedang berhadapan dengan rahmat kasih sayang, maka janganlah dia meratakan kerikil.โ€ HR. At Tirmidzi No. 379, Abu Daud No. 945, Ahmad No. 21330, 21332, 21448, 21554, Ibnu Majah No. 1027, Ibnul Mubarak dalam Az Zuhd No. 1185, Ibnu Khuzaimah No. 913, 914, Ad Darimi No. 1388, Ibnu Hibban No. 2273, Al Baghawi No. 663, Ath Thabarani dalam Musnad Asy Syamiyin No. 1804, Ath Thahawi dalam Syarh Musykilul Aatsar No. 1427 Imam At Tirmidzi menghasankan hadits ini, dan diikuti oleh Imam Al Baghawi. Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan isnadnya memungkinkan untuk dihasankan. Tahqiq Musnad Ahmad No. 35/259. Sedangkan Al Hafizh Ibnu Hajar menshahihkannya. Bulughul Maram Hal. 48. Darul Kutub Al Islamiyah Adapun Syaikh Al Albani mendhaifkan hadits ini dalam berbagai kitabnya. Shahihul Jamiโ€™ No. 613, Tahqiq Misykah Al Mashabih No. 1001, dan lainnya Penyebab terjadinya perbedaan dalam menilai hadits ini adalah disebabkan adanya seorang rawi bernama Abu Al Ahwash. Tidak ada orang yang meriwayatkan darinya kecuali Imam Az Zuhri, dan Imam Ibnu Hibban memasukkannya dalam kitab Ats Tsiqaat Orang-Orang Terpercaya. Sedangkan Imam An Nasaโ€™i mengatakan kami tidak mengenalnya. Imam Ibnu Maโ€™in mengatakan dia bukan apa-apa. Imam Yahya bin Al Qaththan mengatakan tidak diketahui keadaannya. Begitu pula Imam Al Hakim โ€œLaisa bil matiin indahum โ€“ Tidak kuat menurut mereka para ulama.โ€ Tahqiq Musnad Ahmad No. 35/259 Dari Ummu Salamah, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada seseorang bernama Yasar yang ketika shalat meniup-niup tanah. ุชุฑุจ ูˆุฌู‡ูƒ ู„ู„ู‡ โ€œPerdebukanlah wajahmu untuk menyembah Allah.โ€ HR. Ahmad No. 26572 Syaikh Sayyid Sabiq mengatakan sanadnya jayyid/baik. Fiqhus Sunnah, 1/268 Syaikh Al Albani mengoreksi Syaikh Sayyid Sabiq dengan mengatakan ูƒู„ุง ู„ูŠุณ ุจุฌูŠุฏ ูุฅู† ููŠู‡ ุนู†ุฏ ุฃุญู…ุฏ ูˆุบูŠุฑู‡ ุฃุจุง ุตุงู„ุญ ู…ูˆู„ู‰ ุขู„ ุทู„ุญุฉ ูˆู„ุง ูŠุนุฑู ูƒู…ุง ู‚ุงู„ ุงู„ุฐู‡ุจูŠ ูˆุฃุดุงุฑ ุงู„ุญุงูุธ ุฅู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู„ูŠู† ุงู„ุญุฏูŠุซ โ€œTidak, hadits ini tidak jayyid, karena di dalamnya โ€“pada irwayat Ahmad dan selainnya- terdapat Abu Shalih pelayan keluarga Thalhah, dan dia tidak dikenal sebagaimana dikatakan Adz Dzahabi, dan Al Hafizh Ibnu Hajar mengisyaratkan bahwa hadits ini layyin lemah.โ€ Tamamul Minnah Hal. 313 Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth juga mengatakan isnaaduhu dhaif- isnadnya lemah. Tahqiq Musnad Ahmad, 44/196 Bertolak Pinggang ุนู† ุฃุจูŠ ู‡ุฑูŠุฑุฉ ู‚ุงู„ ู†ู‡ู‰ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุนู† ุงู„ุงุฎุชุตุงุฑ ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ. ุฑูˆุงู‡ ุฃุจูˆ ุฏุงูˆุฏ ูˆู‚ุงู„ ูŠุนู†ูŠ ูŠุถุน ูŠุฏู‡ ุนู„ู‰ ุฎุงุตุฑุชู‡. Dari Abu Hurairah, dia berkata โ€œRasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang bertolak pinggang ketika shalat.โ€ HR. Muslim No. 545, Abu Daud No. 947, dia berkata yaitu meletakkan tangan di atas pinggangnya. Ad Darimi No. 1428, Ibnu Hibban No. 2285. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 947, dan hadits ini menurut lafaz Abu Daud Imam At Tirmidzi mengatakan ูˆู‚ุฏ ูƒุฑู‡ ู‚ูˆู… ู…ู† ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ุงู„ุงุฎุชุตุงุฑ ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ. ูˆุงู„ุงุฎุชุตุงุฑ ู‡ูˆ ุฃู† ูŠุถุน ุงู„ุฑุฌู„ ูŠุฏู‡ ุนู„ู‰ ุฎุงุตุฑุชู‡ ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ. ูˆูƒุฑู‡ ุจุนุถู‡ู… ุฃู† ูŠู…ุดูŠ ุงู„ุฑุฌู„ ู…ุฎุชุตุฑุง ูˆูŠุฑูˆู‰ ุฃู† ุฅุจู„ูŠุณ ุฅุฐุง ู…ุดู‰ ูŠู…ุดูŠ ู…ุฎุชุตุฑุง. โ€œSekelompok ulama telah memakruhkan bertolak pinggang ketika shalat. Bertolak pinggang adalah seseorang yang meletakkan pinggangnya ketika shalat. Sebagian mereka memakruhkan seseorang yang berjalan sambil bertolak pinggang. Diriwayatkan bahwa Iblis jika berjalan dia sambil bertolak pinggang.โ€ Sunan At Tirmidzi No. 381 Sementara Imam An Nawawi Rahimahullah menuliskan ู‚ููŠู„ูŽ ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุนูŽู†ู’ู‡ู ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ููุนู’ู„ ุงู„ู’ูŠูŽู‡ููˆุฏ . ูˆูŽู‚ููŠู„ูŽ ููุนู’ู„ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู† . ูˆูŽู‚ููŠู„ูŽ ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฅูุจู’ู„ููŠุณ ู‡ูŽุจูŽุทูŽ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉ ูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ุŒ ูˆูŽู‚ููŠู„ูŽ ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ููุนู’ู„ู ุงู„ู’ู…ูุชูŽูƒูŽุจู‘ูุฑููŠู†ูŽ . โ€œDisebutkan hal itu dilarang karena merupakan perbuatan Yahudi. Disebutkan perbuatan syetan. Disebutkan pula karena iblis diusir dari surga dengan seperti itu. Dikatakan pula itu adalah perilaku orang sombong. Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/310. Mawqiโ€™ Ruh Al Islam Menengadahkan Wajah Ke Langit-Langit ุนู† ุฃุจูŠ ู‡ุฑูŠุฑุฉ ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู„ูŠู†ุชู‡ูŠู† ุฃู‚ูˆุงู… ูŠุฑูุนูˆู† ุฃุจุตุงุฑู‡ู… ุฅู„ู‰ ุงู„ุณู…ุงุก ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุฃูˆ ู„ุชุฎุทูู† ุฃุจุตุงุฑู‡ู… Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda โ€œHendaknya orang-orang itu menghentikan perbuatannya menengadahkan pandangan ke langit ketika shalat, atau jika tidak, niscaya tercungkillah mata mereka!โ€ HR. Muslim No. 428, Abu Daud No. 912, Al Baihaqi, As Sunannya No. 3351, Abu Yaโ€™ala No. 7473, Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf, 58/3, hadits ini diriwayatkan melalui berbagai sahabat dengan redaksi yang sedikit berbeda, yakni dari Abu Hurairah, Anas, dan Jabir bin Samurah Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan ูููŠู‡ู ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ู’ูŠ ุงู„ู’ุฃูŽูƒููŠุฏ ูˆูŽุงู„ู’ูˆูŽุนููŠุฏ ุงู„ุดู‘ูŽุฏููŠุฏ ูููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ู†ูŽู‚ูŽู„ูŽ ุงู„ู’ุฅูุฌู’ู…ูŽุงุน ูููŠ ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ู’ูŠ ุนูŽู†ู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ . ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุงุถููŠ ุนููŠูŽุงุถ ูˆูŽุงุฎู’ุชูŽู„ูŽูููˆุง ูููŠ ูƒูŽุฑูŽุงู‡ูŽุฉ ุฑูŽูู’ุน ุงู„ู’ุจูŽุตูŽุฑ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุก ูููŠ ุงู„ุฏู‘ูุนูŽุงุก ูููŠ ุบูŽูŠู’ุฑ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉ ููŽูƒูŽุฑูู‡ูŽู‡ู ุดูุฑูŽูŠู’ุญ ูˆูŽุขุฎูŽุฑููˆู†ูŽ ุŒ ูˆูŽุฌูŽูˆู‘ูŽุฒูŽู‡ู ุงู„ู’ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑููˆู†ูŽ ุŒ ูˆูŽู‚ูŽุงู„ููˆุง ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุก ู‚ูุจู’ู„ูŽุฉ ุงู„ุฏู‘ูุนูŽุงุก ูƒูŽู…ูŽุง ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ูƒูŽุนู’ุจูŽุฉ ู‚ูุจู’ู„ูŽุฉ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉ ุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูู†ู’ูƒูุฑ ุฑูŽูู’ุน ุงู„ู’ุฃูŽุจู’ุตูŽุงุฑ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ูƒูŽู…ูŽุง ู„ูŽุง ูŠููƒู’ุฑูŽู‡ ุฑูŽูู’ุน ุงู„ู’ูŠูŽุฏ . ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ { ูˆูŽูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุก ุฑูุฒู’ู‚ูƒูู…ู’ ูˆูŽู…ูŽุง ุชููˆุนูŽุฏููˆู†ูŽ } . โ€œDalam hadits ini terdapat larangan yang kuat dan ancaman yang keras atas perbuatan itu. Dan telah dinukil adanya ijmaโ€™ konsensus atas larangan hal tersebut. Berkata Al Qadhi Iyadh para ulama berbeda pendapat dalam kemakruhan menengadah pandangan ke langit ketika berdoa di luar waktu shalat. Syuraih dan lainnya memakruhkan hal itu, namun mayoritas ulama membolehkannya. Mereka mengatakan karena langit adalah kiblatnya doa sebagaimana kaโ€™bah adalah kiblatnya shalat, dan tidaklah diingkari menengadahkan pandangan kepadanya sebagaimana tidak dimakruhkan pula mengangkat tangan ketika berdoa. Allah Taโ€™ala berfirman โ€œDan di langit adanya rezeki kalian dan apa-apa yang dijanjikan kepada kalian.โ€ Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/171. Mawqiโ€™ Ruh Al Islam Sementara Imam Ibnu Bathal Rahimahullah menerangkan ุงู„ุนู„ู…ุงุก ู…ุฌู…ุนูˆู† ุนู„ู‰ ุงู„ู‚ูˆู„ ุจู‡ุฐุง ุงู„ุญุฏูŠุซ ูˆุนู„ู‰ ูƒุฑุงู‡ูŠุฉ ุงู„ู†ุธุฑ ุฅู„ู‰ ุงู„ุณู…ุงุก ูู‰ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุŒ ูˆู‚ุงู„ ุงุจู† ุณูŠุฑูŠู† ูƒุงู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ู…ู…ุง ูŠู†ุธุฑ ุฅู„ู‰ ุงู„ุณู…ุงุก ูู‰ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุŒ ููŠุฑูุน ุจุตุฑู‡ ุญุชู‰ ู†ุฒู„ุช ุขูŠุฉ ุฅู† ู„ู… ุชูƒู† ู‡ุฐู‡ ูู…ุง ุฃุฏุฑู‰ ู…ุง ู‡ู‰ ุงู„ุฐูŠู† ู‡ู… ูู‰ ุตู„ุงุชู‡ู… ุฎุงุดุนูˆู† [ ุงู„ู…ุคู…ู†ูˆู† 2 ] ุŒ ู‚ุงู„ ููˆุถุน ุงู„ู†ุจู‰ ุฑุฃุณู‡ . โ€œUlama telah ijmaโ€™ bahwa hadits ini merupakan dasar bagi pendapat makruhnya memandang langit ketika shalat. Ibnu Sirin mengatakan Bahwa Rasulullah pernah memandang ke langit ketika shalat, Beliau menaikan penglihatannya sehingga turunlah ayat yang jika hal ini tidak terjadi saya tidak tahu apa maksud ayat โ€œOrang-orang yang khusyuโ€™ dalam shalatnya.โ€ QS. Al Muโ€™minun 23 2, dia berkata โ€œMaka Rasulullah menundukkan kepalanya.โ€ Imam Ibnu Bathal, Syarh Shahih Bukhari, 2/364. Cet. 3. 2003M-1423H. Maktabah Ar Rusyd, Riyadh Melihat Sesuatu Yang Dapat Melalaikan ุนู† ุนุงุฆุดุฉ ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุตู„ู‰ ููŠ ุญู…ูŠุตุฉ ู„ู‡ุง ุฃุนู„ุงู… ูู‚ุงู„ ุดุบู„ุชู†ูŠ ุฃุนู„ุงู… ู‡ุฐู‡ุŒ ุงุฐู‡ุจูˆุง ุจู‡ุง ุฅู„ู‰ ุฃุจูŠ ุฌู‡ู… ูˆุงุชูˆู†ูŠ ุจุฃู†ุจุฌุงู†ูŠุชู‡ ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ูˆู…ุณู„ู…. Dari Aisyah, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat memakai pakaian berbulu yang bergambar, lalu dia bersabda โ€œGambar-gambar ini mengganggu pikiranku, kembalikan ia ke Abu Jahm, tukar saja dengan pakaian bulu kasar yang tak bergambar.โ€ HR. Bukhari No. 752, Muslim No. 556 ุนู† ุฃู†ุณ ู‚ุงู„ ูƒุงู† ู‚ุฑุงู… ู„ุนุงุฆุดุฉ ุณุชุฑุช ุจู‡ ุฌุงู†ุจ ุจูŠุชู‡ุง ูู‚ุงู„ ู„ู‡ุง ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃู…ูŠุทูŠ ู‚ุฑุงู…ูƒุŒ ูุฅู†ู‡ ู„ุง ุชุฒุงู„ ุชุตุงูˆูŠุฑู‡ ุชุนุฑุถ ู„ูŠ ููŠ ุตู„ุงุชูŠ Dari Anas, dia berkata Aisyah punya tirai tipis yang dipasang di depan pintu rumahnya maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pun bersabda Turunkanlah tiraimu itu, karena gambar-gambarnya menggangguku dalam shalatku.โ€ HR. Bukhari No. 367, 5614 Syaikh Sayyid Sabiq mengatakan ูˆููŠ ู‡ุฐุง ุงู„ุญุฏูŠุซ ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุฃู† ุงุณุชุซุจุงุช ุงู„ุฎุท ุงู„ู…ูƒุชูˆุจ ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ู„ุง ูŠูุณุฏู‡ุง. โ€œDalam hadits ini terdapat dalil bahwa memakai pakaian bergambar tidaklah membatalkan shalat.โ€ Fiqhus Sunnah, 1/269. Darl Kitab Al Arabi Ya, namun hal itu makruh lantaran berpotensi merusak kekhusyukan shalat. Memejamkan Mata Sebenarnya Para Ulama berbeda pendapat, antara memakruhkan dan membolehkan. Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah ุชุบู…ูŠุถ ุงู„ุนูŠู†ูŠู† ูƒุฑู‡ู‡ ุงู„ุจุนุถ ูˆุฌูˆุฒู‡ ุงู„ุจุนุถ ุจู„ุง ูƒุฑุงู‡ุฉุŒ ูˆุงู„ุญุฏูŠุซ ุงู„ู…ุฑูˆูŠ ููŠ ุงู„ูƒุฑุงู‡ุฉ ู„ู… ูŠุตุญ โ€œMemejamkan mata sebagian ulama ada yang memakruhkan, sebagian lain membolehkan tidak makruh. Hadits yang meriwayatkan kemakruhannya tidak shahih.โ€ Fiqhs Sunnah, 1/269. Darul Kitab Al Arabi Para Ulama Yang Memakruhkan Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra, mengatakan ูˆุฑูˆูŠู†ุง ุนู† ู…ุฌุงู‡ุฏ ูˆู‚ุชุงุฏุฉ ุงู†ู‡ู…ุง ูƒุงู†ุง ูŠูƒุฑู‡ุงู† ุชุบู…ูŠุถ ุงู„ุนูŠู†ูŠู† ููŠ ุงู„ุตู„ูˆุฉ ูˆุฑูˆู‰ ููŠู‡ ุญุฏูŠุซ ู…ุณู†ุฏ ูˆู„ูŠุณ ุจุดุฆ โ€œKami meriwayatkan dari Mujahid dan Qatadah bahwa mereka berdua memakruhkan memejamkan mata dalam shalat. Tentang hal ini telah ada hadits musnad, dan hadits tersebut tidak ada apa-apanya.โ€ As Sunan Al Kubra, 2/284 Ini juga menjadi pendapat Sufyan Ats Tsauri. Al Majmuโ€™ Syarh Al Muhadzdzab, 3/314. Darul Fikr Selain mereka adalah Imam Ahmad, Imam Abu Jaโ€™far Ath Thahawi, Imam Abu Bakar Al Kisani, Imam As Sayyid Bakr Ad Dimyathi, dan lainnya. Alasan pemakruhannya adalah karena memejamkan mata merupakan cara ibadahnya orang Yahudi, dan kita dilarang meniru mereka dalam urusan dunia, apalagi urusan ibadah. Para Ulama Yang Membolehkan Imam Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Zaid bin Hibban, telah bercerita kepada kami Jamil bin Ubaid,katanya ุณู…ุนุช ุงู„ุญุณู† ูˆุณุฃู„ู‡ ุฑุฌู„ ุฃุบู…ุถ ุนูŠู†ูŠ ุฅุฐุง ุณุฌุฏุช ูู‚ุง ุฅู† ุดุฆุช. โ€œAku mendengar bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Al Hasan, tentang memejamkan mata ketika sujud. Al Hasan menjawab โ€œJika engkau mau.โ€ Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 2/162 Disebutkan oleh Imam An Nawawi, tentang pendapat Imam Malik Radhiallahu Anhu ูˆู‚ุงู„ ู…ุงู„ูƒ ู„ุง ุจุฃุณ ุจู‡ ููŠ ุงู„ูุฑูŠุถุฉ ูˆุงู„ู†ุงูู„ุฉ โ€œBerkata Malik tidak apa-apa memejamkan mata, baik pada shalat wajib atau sunah.โ€ Al Majmuโ€™ Syarh Al Muhadzdzab, 3/314. Darul Fikr Semua sepakat bahwa memejamkan mata tidak haram, dan bukan pembatal shalat. Perbedaan terjadi antara makruh dan mubah. Jika dilihat dari sisi dalil -dan dalil adalah hal yang sangat penting- ternyata tidak ada hadits yang shahih tentang larangannya, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Sayyid Sabiq, dan diisyaratkan oleh Imam Al Baihaqi. Namun, telah shahih dari tabiโ€™in bahwa hal itu adalah cara shalatnya orang Yahudi, dan tidak boleh menyerupai mereka dalam hal keduniaan, lebih-lebih ritual keagamaan. Maka, pandangan kompromis yang benar dan bisa diterima dari fakta-fakta ini adalah seperti apa yang diulas Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah sebagai berikut ูˆู‚ุฏ ุงุฎุชู„ู ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ููŠ ูƒุฑุงู‡ุชู‡ุŒ ููƒุฑูู‡ู‡ ุงู„ุฅูู…ุงู…ู ุฃุญู…ุฏ ูˆุบูŠุฑูู‡ุŒ ูˆู‚ุงู„ูˆุงู‡ูˆ ูุนู„ู ุงู„ูŠู‡ูˆุฏุŒ ูˆุฃุจุงุญู‡ ุฌู…ุงุนุฉ ูˆู„ู… ูŠูƒุฑู‡ูˆู‡ุŒ ูˆู‚ุงู„ูˆุง ู‚ุฏ ูŠูƒูˆู†ู ุฃู‚ุฑุจูŽ ุฅู„ู‰ ุชุญุตูŠู„ ุงู„ุฎุดูˆุน ุงู„ุฐูŠ ู‡ูˆ ุฑูˆุญู ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุณุฑู‘ูู‡ุง ูˆู…ู‚ุตูˆุฏู‡ุง. ูˆุงู„ุตูˆุงุจ ุฃู† ูŠูู‚ุงู„ ุฅู† ูƒุงู† ุชูุชูŠุญู ุงู„ุนูŠู† ู„ุง ูŠูุฎูู„ู ุจุงู„ุฎุดูˆุนุŒ ูู‡ูˆ ุฃูุถู„ุŒ ูˆุฅู† ูƒุงู† ูŠุญูˆู„ ุจูŠู†ู‡ ูˆุจูŠู† ุงู„ุฎุดูˆุน ู„ู…ุง ููŠ ู‚ุจู„ุชู‡ ู…ู† ุงู„ุฒุฎุฑูุฉ ูˆุงู„ุชุฒูˆูŠู‚ ุฃูˆ ุบูŠุฑู‡ ู…ู…ุง ูŠูุดูˆุด ุนู„ูŠู‡ ู‚ู„ุจู‡ุŒ ูู‡ู†ุงู„ูƒ ู„ุง ูŠููƒุฑู‡ ุงู„ุชุบู…ูŠุถู ู‚ุทุนุงู‹ุŒ ูˆุงู„ู‚ูˆู„ู ุจุงุณุชุญุจุงุจู‡ ููŠ ู‡ุฐุง ุงู„ุญุงู„ ุฃู‚ุฑุจู ุฅู„ู‰ ุฃุตูˆู„ ุงู„ุดุฑุน ูˆู…ู‚ุงุตุฏู‡ ู…ู† ุงู„ู‚ูˆู„ ุจุงู„ูƒุฑุงู‡ุฉุŒ ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู…. โ€œPara fuqaha telah berselisih pendapat tentang kemakruhannya. Imam Ahmad dan lainnya memakruhkannya. Mereka mengatakan itu adalah perilaku Yahudi, segolongan yang lain membolehkannya tidak memakruhkan. Mereka mengatakan Hal itu bisa mendekatkan seseorang untuk mendapatkan kekhusyuโ€™an, dan itulah ruhnya shalat, rahasia dan maksudnya. Yang benar adalah jika membuka mata tidak menodai kekhusyuโ€™an maka itu lebih utama. Dan, jika justru hal itu mengganggu dan tidak membuatnya khusyuโ€™ karena dihadapannya terdapat ukiran, lukisan, atau lainnya yang mebuat hatinya tidak tenang, maka secara qathโ€™i meyakinkan memejamkan mata tidak makruh. Pendapat yang menganjurkan memejamkan mata dalam kondisi seperti ini lebih mendekati dasar-dasar syariat dan maksud-maksudnya, dibandingkan pendapat yang mengatakan makruh. Wallahu Aโ€™lam.โ€ Zaadul Maโ€™ad, 1/294. Muasasah Ar Risalah Memberikan Isyarat Dengan Tangan Ketika Salam Hal ini banyak dilakukan orang awam. Mereka membuka tangan kanannya dan membalikkannya ketika salam pertama dan begitu pula dengan tangan kiri ketika salam kedua. Dari Jabir bin Samurah, katanya ูƒู†ุง ู†ุตู„ูŠ ุฎู„ู ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูู‚ุงู„ ู…ุง ุจุงู„ ู‡ุคู„ุงุก ูŠุณู„ู…ูˆู† ุจุฃูŠุฏูŠู‡ู… ูƒุฃู†ู‡ุง ุฃุฐู†ุงุจ ุฎูŠู„ ุดู…ุณ ุฅู†ู…ุง ูŠูƒููŠ ุฃุญุฏูƒู… ุฃู† ูŠุถุน ูŠุฏู‡ ุนู„ู‰ ูุฎุฐู‡ ุซู… ูŠู‚ูˆู„ ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู… ุฑูˆุงู‡ ุงู„ู†ุณุงุฆูŠ ูˆุบูŠุฑู‡ ูˆู‡ุฐุง ู„ูุธู‡. โ€œKami shalat di belakang Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dia bersabda โ€œKenapa mereka mengucapkan salam sambil mengisyaratkan tangan mereka, tak ubahnya seperti kuda liar! Cukuplah bagi kalian meletakkan tangannya di atas pahanya, lalu mengucapkan Assalamu Alaikum, Assalamu Alaikum. โ€œ HR. An Nasaโ€™i No. 1185, dan lainnya, dan ini adalah lafaz darinya. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan An Nasaโ€™i No. 1185 Menutup Mulut dan Menjulurkan Kain Sarung/Gamis/Celana Panjang Hingga Ke Tanah ุนู† ุฃุจูŠ ู‡ุฑูŠุฑุฉ ู‚ุงู„ ู†ู‡ู‰ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุนู† ุงู„ุณุฏู„ ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉุŒ ูˆุฃู† ูŠุบุทูŠ ุงู„ุฑุฌู„ ูุงู‡ โ€œDari Abu Hurairah, katanya โ€œRasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang menjulurkan kain ke bawah ketika shalat dan seseorang menutup mulutnya.โ€ HR. Abu Daud No. 643, Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra, No. 3125, Ibnu Khuzaimah No. 772, dan Hakim No. 631, katanya shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jamiโ€™ No. 6883 Apa Maksudnya? ู‚ุงู„ ุงู„ุฎุทุงุจูŠ ุงู„ุณุฏู„ ุฅุฑุณุงู„ ุงู„ุซูˆุจ ุญุชู‰ ูŠุตูŠุจ ุงู„ุงุฑุถุŒ ูˆู‚ุงู„ ุงู„ูƒู…ุงู„ ุจู† ุงู„ู‡ู…ุงู… ูˆูŠุตุฏู‚ ุฃูŠุถุง ุนู„ู‰ ู„ุจุณ ุงู„ู‚ุจุงุก ู…ู† ุบูŠุฑ ุฅุฏุฎุงู„ ุงู„ูŠุฏูŠู† ููŠ ูƒู…ู‡. Berkata Al Khathabi Menurunkan kain maksudnya menjulurkannya hingga menggeser di tanah. Berkata Kamaluddin Al Hummam Termasuk dalam hal ini adalah mengenakan baju tanpa memasukkan tangan ke lobang tangannya. Fiqhus Sunnah, 1/270 Imam At Tirmidzi Rahimahullah mengatakan ูˆู‚ุฏ ุงุฎุชู„ู ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ููŠ ุงู„ุณุฏู„ ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ. ููƒุฑู‡ ุจุนุถู‡ู… ุงู„ุณุฏู„ ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆู‚ุงู„ูˆุง ู‡ูƒุฐุง ุชุตู†ุน ุงู„ูŠู‡ูˆุฏ ูˆู‚ุงู„ ุจุนุถู‡ู… ุฅู†ู…ุง ูƒุฑู‡ ุงู„ุณุฏู„ ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุฅุฐุง ู„ู… ูŠูƒู† ุนู„ูŠู‡ ุฅู„ุง ุซูˆุจ ูˆุงุญุฏุŒ ูุฃู…ุง ุฅุฐุง ุณุฏู„ ุนู„ู‰ ุงู„ู‚ู…ูŠุต ูู„ุง ุจุฃุณ ูˆู‡ูˆ ู‚ูˆู„ ุฃุญู…ุฏ. ูˆูƒุฑู‡ ุงุจู† ุงู„ู…ุจุงุฑูƒ ุงู„ุณุฏู„ ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ. โ€œPara ulama telah berbeda pendapat tentang menjulurkan kain dalam shalat. Sebagian mereka memakruhkannya, mereka mengatakan itu adalah perbuatan Yahudi. Sebagian lain mengatakan bahwasanya pemakruhan itu hanya jika menggunakan satu pakaian saja, ada pun jika yang dijulurkan pakaian itu adalah sebagai bagian luar dari gamis, maka tidak apa-apa, ini adalah pendapat Ahmad. Ibnul Mubarak memakruhakan menjulurkan kain dalam shalat.โ€ Sunan At Tirmidzi No. 376 Shalat Ketika Makanan Telah Tersedia Dan Menahan Buang Air Besar dan Buang Air Kecil Dari Aisyah Radhiallah Anha bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda ู„ูŽุง ุตูŽู„ูŽุงุฉูŽ ุจูุญูŽุถู’ุฑูŽุฉู ุงู„ุทู‘ูŽุนูŽุงู…ู ูˆูŽู„ูŽุง ู‡ููˆูŽ ูŠูุฏูŽุงููุนูู‡ู ุงู„ู’ุฃูŽุฎู’ุจูŽุซูŽุงู†ู โ€œTidak ada shalat ketika makanan sudah terhidangkan, dan menahan dua hal yang paling busuk menahan buang air besar dan kencing.โ€ HR. Muslim No. 559, Abu Daud No. 89, Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. 4816, Ibnu Khuzaimah No. 933, Ibnu Hibban No. 2072, dari Abu Hurairah, tanpa kalimat โ€œtidak ada shalat ketika makanan sudah terhidangkan.โ€ Hadits ini diperkuat oleh hadits berikut ุนูŽู†ู’ ุงุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฅูุฐูŽุง ูˆูุถูุนูŽ ุนูŽุดูŽุงุกู ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูู‚ููŠู…ูŽุชู’ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ููŽุงุจู’ุฏูŽุกููˆุง ุจูุงู„ู’ุนูŽุดูŽุงุกู ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุนู’ุฌูŽู„ู’ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽูู’ุฑูุบูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุงุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ูŠููˆุถูŽุนู ู„ูŽู‡ู ุงู„ุทู‘ูŽุนูŽุงู…ู ูˆูŽุชูู‚ูŽุงู…ู ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ููŽู„ูŽุง ูŠูŽุฃู’ุชููŠู‡ูŽุง ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽูู’ุฑูุบูŽ ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽูŠูŽุณู’ู…ูŽุนู ู‚ูุฑูŽุงุกูŽุฉูŽ ุงู„ู’ุฅูู…ูŽุงู…ู Dari Ibnu Umar dia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda โ€œJika telah dihidangkan makan malam, dan waktu shalat telah datang, maka mulailah makan malam dan jangan tergesa-gesa sampai selesai.โ€ Ibnu Umar pernah dihidangkan makan dan shalat tengah didirikan, namun dia tidak mengerjakannya sampai dia menyelesaikan makannya, dan dia benar-benar mendengar bacaan Imam.โ€ HR. Bukhari No. 640,641,642, Muslim No. 557, 558,559, 560. Ibnu Majah No. 933, 934 Imam An Nawawi Rahimahullah berkata ูููŠ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ุฃูŽุญูŽุงุฏููŠุซ ูƒูŽุฑูŽุงู‡ูŽุฉ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉ ุจูุญูŽุถู’ุฑูŽุฉู ุงู„ุทู‘ูŽุนูŽุงู… ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠูุฑููŠุฏ ุฃูŽูƒู’ู„ู‡ ุŒ ู„ูู…ูŽุง ูููŠู‡ู ู…ูู†ู’ ุงูุดู’ุชูุบูŽุงู„ ุงู„ู’ู‚ูŽู„ู’ุจ ุจูู‡ู ุŒ ูˆูŽุฐูŽู‡ูŽุงุจ ูƒูŽู…ูŽุงู„ู ุงู„ู’ุฎูุดููˆุน ุŒ ูˆูŽูƒูŽุฑูŽุงู‡ูŽุชู‡ูŽุง ู…ูŽุนูŽ ู…ูุฏูŽุงููŽุนูŽุฉ ุงู„ู’ุฃูŽุฎู’ุจูŽุซููŠู†ูŽ ูˆูŽู‡ูู…ูŽุง ุงู„ู’ุจูŽูˆู’ู„ ูˆูŽุงู„ู’ุบูŽุงุฆูุท ุŒ ูˆูŽูŠูŽู„ู’ุญูŽู‚ ุจูู‡ูŽุฐูŽุง ู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ูููŠ ู…ูŽุนู’ู†ูŽุงู‡ู ูŠูŽุดู’ุบูŽู„ ุงู„ู’ู‚ูŽู„ู’ุจ ูˆูŽูŠูุฐู’ู‡ูุจ ูƒูŽู…ูŽุงู„ ุงู„ู’ุฎูุดููˆุน โ€œHadits-hadits ini menunjukkan kemakruhan melaksanakan shalat ketika makanan yang diinginkan telah tersedia, karena hal itu akan membuat hatinya terganggu, dan hilangnya kesempurnaan khusyuโ€™, dan juga dimakruhkan melaksanakan shalat ketika menahan dua hal yang paling busuk, yaitu kencing dan buang air besar. Karena hal ini mencakup makna menyibukkan hati dan hilangnya kesempurnaan khusyuโ€™.โ€ Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/321. Mawqiโ€™ Ruh Al Islam Bahkan kalangan madzhab Zhahiriyah menganggap batal shalat dalam keadaan seperti itu ูˆูŽู†ูŽู‚ูŽู„ูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุงุถููŠ ุนููŠูŽุงุถ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽู‡ู’ู„ ุงู„ุธู‘ูŽุงู‡ูุฑ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ุจูŽุงุทูู„ูŽุฉ โ€œDinukil oleh Al Qadhi Iyadh dari ahluzh zhahir, bahwa hal itu batal shalatnya.โ€ Aunul Maโ€™bud, 1/113. Syamilah Shalat Dalam Keadaan Ngantuk ุนู† ุนุงุฆุดุฉ ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุงู„ ุฅุฐุง ู†ุนุณ ุฃุญุฏูƒู… ูู„ูŠุฑู‚ุฏ ุญุชู‰ ูŠุฐู‡ุจ ุนู†ู‡ ุงู„ู†ูˆู…ุŒ ูุฅู†ู‡ ุฅุฐุง ุตู„ู‰ ูˆู‡ูˆ ู†ุงุนุณ ู„ุนู„ู‡ ูŠุฐู‡ุจ ูŠุณุชุบูุฑ ููŠุณุจ ู†ูุณู‡ ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ. Dari Aisyah, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda โ€œJika salah seorang kalian ngantuk, hendaknya dia tidur dulu hingga hilang rasa ngantuknya, sedangkan jika dia shalat dalam keadaan ngantuk itu, bisa jadi dia ingin istighfar ternyata dia mengucapkan caci maki untuk dirinya.โ€ HR. Al Jamaโ€™ah ูˆุนู† ุฃุจูŠ ู‡ุฑูŠุฑุฉ ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุงู„ ุฅุฐุง ู‚ุงู… ุฃุญุฏูƒู… ู…ู† ุงู„ู„ูŠู„ ูุงุณุชุนุฌู… ุงู„ู‚ุฑุขู† ุนู„ู‰ ู„ุณุงู†ู‡ ูู„ู… ูŠุฏุฑ ู…ุง ูŠู‚ูˆู„ ูู„ูŠุถุทุฌุน ุฑูˆุงู‡ ุฃุญู…ุฏ ูˆู…ุณู„ู…. Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda โ€œJika salah seorang kalian bangun malam dan masih ngantuk sehingga lidahnya berat membaca Al Quran dan ia tidak sadar apa yang dibacanya itu, maka sebaiknya dia tidur lagi!โ€ HR. Ahmad dan Muslim Makmum Mengkhususkan Tempat Tersendiri Baginya Dari Abdurrahman bin Syibil, katanya ุณูŽู…ูุนู’ุชู ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽู†ู’ู‡ูŽู‰ ุนูŽู†ู’ ุซูŽู„ูŽุงุซู ุนูŽู†ู’ ู†ูŽู‚ู’ุฑูŽุฉู ุงู„ู’ุบูุฑูŽุงุจู ูˆูŽุนูŽู†ู’ ุงูู’ุชูุฑูŽุงุดู ุงู„ุณู‘ูŽุจูุนู ูˆูŽุฃูŽู†ู’ ูŠููˆุทูู†ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ุงู„ู’ู…ูŽู‚ูŽุงู…ูŽ ูƒูŽู…ูŽุง ูŠููˆุทูู†ู ุงู„ู’ุจูŽุนููŠุฑู โ€œAku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang dari tiga hal, yakni melarang seseorang ruku atau sujud seperti burung gagak, duduk seperti duduknya binatang buas, dan seseorang yang menempati tempat tertentu untuk dirinya di masjid bagaikan unta yang menempatkan tempat tertentu untuk berbaring.โ€ HR. Abu Daud No. 862, An Nasaโ€™i No. 1112, Ibnu Majah No. 1429, Ahmad No. 14984, 14985, juga Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al Hakim, katanya shahih, dan disepakati oleh Adz Dzahabi Ada pun Syaikh Al Albani menghasankan dalam berbagai kitabnya, seperti Misykah Al Mashabih, Ats Tsamar Al Mustathab, As Silsilah Ash Shahihah, Shahih At Targhib wat Tarhib, Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud, Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah, dan Shahih wa Dhaif Sunan An Nasaโ€™i. Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah menjadikan hadits ini sebagai dalil hal-hal yang dimakruhkan dalam shalat. Fiqhus Sunnah, 1/271. Darul Kitab Al Arabi Begitu pula yang dikatakan oleh Imam Asy Syaukani bahwa hadits ini merupakan dalil makruhnya makmum membiasakan shalat ditempat khusus. Nailul Authar, 3/196. Maktabah Ad Daโ€™wah Al Islamiyah Sedangkan Syaikh Al Albani menyatakan keharaman perilaku makmum yang mengkhususkan tempat tertentu untuk dirinya. Ats Tsamar Al Mustathab, Hal. 669. Cet. 1. Ghiras Lin Nasyr wat Tauziโ€™ Demikianlah hal-hal yang dimakruhkan dalam shalat. Sementara, Syaikh Sayyid Sabiq menambahkan bahwa sengaja meninggalkan sunah-sunahnya shalat juga termasuk perbuatan yang makruh. Wallahu Aโ€™lam Orang yang sedang shalat pada hakikatnya sedang bermunajat kepada Allah ๏ทป. Dalam keadaan bermunajat ini, tidak layak bagi siapa pun untuk mengganggu ibadah shalatnya dengan rangkaian aktivitas lain yang dapat merusak kekhusyukan, termasuk dengan melintas di depan orang yang sedang shalat. Dalam hadits dijelaskanู„ูŽูˆู’ ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุงู„ู’ู…ูŽุงุฑู‘ู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ูŠูŽุฏูŽูŠู’ ุงู„ู’ู…ูุตูŽู„ู‘ููŠ ู…ูŽุงุฐูŽุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ู„ูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู‚ูููŽ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนููŠู†ูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู„ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู…ูุฑู‘ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุจููˆ ุงู„ู†ู‘ูŽุถู’ุฑู ู„ูŽุง ุฃูŽุฏู’ุฑููŠ ุฃูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนููŠู†ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง ุฃูŽูˆู’ ุดูŽู‡ู’ุฑู‹ุง ุฃูŽูˆู’ ุณูŽู†ูŽุฉู‹โ€œKalau saja orang yang berjalan di depan orang shalat tahu sesuatu dosa yang akan ia dapatkan, maka sungguh berdiam menunggu selesai shalat selama 40 lebih baik baginya daripada berjalan di depan orang yang shalat. Abu Nadhar Rawi berkata, 'Saya tidak tahu apakah Rasulullah berkata 40 hari, bulan, atau tahun'.โ€ HR. BukhariHadits di atas secara tegas menunjukkan bahwa lewat di hadapan orang yang sedang shalat adalah perbuatan yang sangat tidak dianjurkan. Namun yang patut ditanyakan, apakah melewati orang yang sedang shalat adalah larangan yang sampai terkena hukum haram, atau hanya sebatas makruh?Sebelumnya patut dipahami bahwa larangan yang dimaksud dalam hadits di atas adalah melewati di jalan antara tubuh orang yang sedang shalat dengan sutrah penghalang yang dijadikan sebagai pembatas. Misalnya, melawati di tengah sajadah-sajadah orang yang sedang shalat, sebab sajadah merupakan contoh dari sutrah, sehingga melewati jalan yang sudah keluar dari batas sutrah adalah hal yang diperbolehkan. Dalam menyikapi status hukum dari melewati orang yang sedang shalat, para ulama berbeda pendapat. Menurut pendapat yang kuat, hukum lewat di depan orang yang sedang shalat adalah haram. Sedangkan menurut Imam al-Ghazali, lewat di depan orang yang sedang shalat tidaklah sampai berakibat hukum haram, tapi hanya sebatas makruh. Meskipun pendapat yang dianggap shahih benar menurut Imam Baghawi dan para ulama lain adalah hukum haram. Penjelasan ini seperti yang tercantum dalam kitab al-Majmuโ€™ ala Syarh al-Muhadzabุฅุฐุง ุตู„ู‰ ุงู„ูŠ ุณุชุฑุฉ ุญุฑู… ุนู„ูŠ ุบุจุฑู‡ ุงู„ู…ุฑูˆุฑ ุจูŠู†ู‡ ูˆุจูŠู† ุงู„ุณุชุฑุฉ ูˆู„ุง ูŠุญุฑู… ูˆุฑุงุก ุงู„ุณุชุฑุฉ ูˆู‚ุงู„ ุงู„ุบุฒุงู„ูŠ ูŠูƒุฑู‡ ูˆู„ุง ูŠุญุฑู… ูˆุงู„ุตุญูŠุญ ุจู„ ุงู„ุตูˆุงุจ ุงู†ู‡ ุญุฑุงู… ูˆุจู‡ ู‚ุทุน ุงู„ุจุบูˆู‰ ูˆุงู„ู…ุญู‚ู‚ูˆู† โ€œJika seseorang melaksanakan shalat dengan sutrah penghalang maka haram bagi orang lain lewat diantara orang yang sedang shalat dan sutrah, sedangkan lewat di luar sutrah adalah hal yang tidak diharamkan. Imam Al-Ghazali berpendapat hukum lewat di depan orang shalat makruh, tidak sampai haram. Namun pendapat yang shahih bahkan pendapat yang benar bahwa sesungguhnya lewat di depan orang shalat adalah haram. Pendapat demikian adalah yang dipastikan tanpa keraguan oleh Imam Baghawi dan ulama lain yang ahli memutuskan hukum beserta dalilnyaโ€ Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmuโ€™ ala Syarh al-Muhadzab, Juz 3, Hal. 249Meski dihukumi haram, namun ada saat-saat tertentu bagi seseorang diperbolehkan melewati orang yang sedang melaksanakan shalat, misalnya ketika akan buang hajat, tidak ada jalan lain selain melewati orang yang sedang shalat, serta keadaan-keadaan lain sekiranya melewati orang yang shalat terdapat sisi kemaslahatan yang melampaui kemudaratan melewati orang yang sedang shalat. Diperbolehkan melintas pula saat orang yang shalat ceroboh, misalnya, dengan membiarkan shaf di depannya kosong lalu melaksanakan shalat di tempat yang biasa dilewati orang. Berdasarkan penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa melewati orang yang shalat adalah perbuatan yang diharamkan, atau setidaknyaโ€”menurut Imam al-Ghazaliโ€”makruh. Pendapat yang paling kuat adalah haram. Keharaman ini akan menjadi hilang ketika terdapat uzur yang meperbolehkan lewat di depan orang yang shalat. Wallahu aโ€™lam.Ustadz Ali Zainal Abidin Menghadap kiblat merupakan salah satu syarat sah shalat. Ketentuan tersebut ditegaskan dalam sejumlah dalil baik Alquran maupun hadis Rasulullah SAW. Dalam Alquran surat al-Baqarah ayat 144, Allah SWT berfirman, ''Sungguh Kami sering melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjid al-Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.'' Perintah Sang Khalik itu diperkuat dengan hadis. Nabi Muhammad SAW bersabda, "Bila kamu hendak mengerjakan shalat, hendaklah menyempurnakan wudlu kemudian menghadap kiblat lalu takbir " HR Bukhari dan Muslim. Atas dasar ayat Alquran dan hadis itulah para ulama, menurut asy-Syaukani, bersepakat bahwa menghadap ke Baitullah hukumnya wajib bagi orang yang melakukan shalat. Lalu timbul persoalan, apakah harus persis ke Baitullah atau boleh hanya ke perkiraan arahnya saja? Dalam konteks ini perlu dipahami bahwa agama Islam bukanlah agama yang sulit dan memberatkan. Namun demikian, perlu berusaha memadukan antara teks dan konteks agar pemahaman tentang arah kiblat mendekati kebenaran. Terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama ketika menentukan pusat arah yang dihadapi itu. Apakah yang dihadapi itu zat kiblat itu sendiri atau cukup dengan menghadap ke arahnya saja. Ensiklopedi Islam terbitan Ichtiar Baru van Hoeve, memaparkan pendapat beberapa imam mazhab. Menurut Imam Syafi'i, orang yang melakukan shalat wajib mengarah pasda zat Ka'bah. Sedangkan orang yang jauh dari Ka'bah cukup dengan memperkirakan saja. Akan tetapi, ada riwayat lain yang mengatakan bahwa Imam Syafi'i membolehkan orang shalat hanya menghadap ke arah ka'bah, bukan pada zatnya. Riwayat itu diterima dari al-Muzanni, murid Imam Syafi'i. Dari dua pendapat yang diriwayatkan dari Imam Syafi'i itu, pendapat pertama ternyata lebih popuper. Lalu bagaimana dengan imam-imam yang lain? Imam-imam mujtahid lainnya seperti Imam Hanafi, Imam Malik dan Imam Hanbali , mewajibkan orang yang jauh dari Ka'bah untuk menghadap ke arah Ka'bah saja. Alasannya, tak mungkin bagi orang yang jauh dari Ka'bah untuk menghadap ke zat Ka'bah itu sendiri. Jika seseorang melakukan shalat di tempat yang sangat gelap, menurut para Imam, boleh menghadap ke arah yang diyakini. Shalatnya dinyatakan sah, asalkan dia telah melakukan shalat tersebut. Akan tetapi, jika ketika selesai shalat mengetahui bahwa arah kiblat yang dihadapinya salah, maka shalatnya wajib di ulangi, kalau masih ada waktu. Itulah pendapat Imam Syafi'i, ulama Hanafiah dan ulama Kufah pada umumnya. Akan tetapi, as-San'ani ahli fikih dan hadis serta asy-Syaukani memandang shalat yang telah dikerjakan itu tak perlu diulang, karena sah. sumber Harian RepublikaBACA JUGA Update Berita-Berita Politik Perspektif Klik di Sini Skip to content Ketika shalat dimakruhkan memalingkan muka tanpa hajat. Ada pendapat yang mengatakan haram, bahkan terpilih pendapat yang haram ini berdasarkan hadis sahih, โ€œAllah selalu menghadap kepada hamba-Nya ketika ia shalat, yakni dengan rahmat dan rida-Nya selama ia tidak berpaling. Apabila ia berpaling, maka Allah akan berpaling pula darinya.โ€ Sabda Nabi saw atas pertanyaan Siti Aisyah tentang hal berpaling ketika shalat, โ€œDia adalah pencopet. Setan mencopet shalat seseorangโ€. Tidak makruh menoleh apabila ada hajat, demikian pula melirikkan mata. Sebagaimana waktu Nabi saw dalam perjalanan, beliau mengutus seorang prajurit berkuda di sebuah jalan di bawah bukit untuk menjaga, lalu beliau shalat, dan ketika shalat itu beliau menoleh ke arah jalan. Ali bin Syaibani menceritakan bahwa ia pernah menghadap Nabi saw, lalu beliau menoleh dengan ujung matanya kepada seorang laki-laki yang menegakkan tulang punggungnya dalam rukuk dan sujudnya, lalu sabdanya, โ€œTidak berarti salat orang yang tidak menegakkan tulang punggungnya.โ€Riwayat Ibnu Hibban. Makruh melihat ke langit menengadah dan melihat setiap perkara yang dapat membimbangkan shalat, misalnya pakaian yang bercorak, berdasarkan hadis Bukhari, โ€œBagaimanakah perbuatan suatu kaum yang matanya mamandang ke langit ketika shalat?โ€ dalam hal ini Nabi saw mengeluarkan kata-kata keras, โ€œโ€Mereka harus menyudahi perbuatan itu, atau matanya akan disambar.โ€ Adapun melihat ke atas ketika berdoa, diperbolehkan, sebab langit itu adalah kiblatnya doa; seperti halnya Kaโ€™bah, kiblatnya shalat.

menengadah ke langit ketika shalat termasuk perbuatan yang hukumnya